Presiden Kroasia Kalinda memeluk pemain Kroasia Luca Modric.

Bagaimana Presiden Kroasia Mengawal Timnya ke Final Piala Dunia?

RUSIA- Prancis lah juara Piala Dunia, tapi Kroasia tetap pulang dengan kepala tegak. Dukungan Presiden Kolinda untuk timnya menjadi perhatian dunia.

Kroasia memang kalah dalam Piala Dunia 2018, tapi perjuangan keras negara kecil yang hanya berpenduduk sekitar empat juta orang ini mendapat dukungan dari seluruh dunia.

Selain Luka Modric yang berhasil mendapatkan Bola Emas sebagai pemain terbaik, perhatian banyak ditujukan kepada Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic.

Kroasia sebenarnya sudah ada dalam berbagai bentuk sejak masa Kerajaan Romawi namun negara yang sekarang ini kita kenal, baru terbentuk tahun 1991.

Pada bulan Juni 1991, Kroasia menyatakan kemerdekaannya dari Yugoslavia. Sejak saat itu Kroasia telah punya empat presiden, dan presiden perempuan pertamanya ada Presiden Kolinda Grabar-Kitarović yang berusia 50 tahun.

Pada 1 Juli, Grabar-Kitarovic memposting fotonya naik pesawat kelas ekonomi untuk hadir di pertandingan Kroasia melawan Denmark

Dalam pertandingan itu, dia tidak duduk di tribun khusus VIP, tapi mengunggah foto di kursi biasa di stadion kota Nizhny Novgorod, Rusia.

Pertandingan 2 Juli itu berakhir dengan skor sama 1-1, sehingga pemenang ditentukan dengan tendangan penalti. Kroasia menang dalam babak penalti dengan skor 3-2.

Muncul di ruang ganti

Presiden Grabar-Kitarovic menemui pemainnya di ruang ganti untuk mengucapkan selamat secara langsung dan memeluk mereka satu persatu meskipun sebagian dari mereka telanjang dada.

Saat Kroasia harus menghadapi Inggris pada semifinal, 12 Juli, ia tak bisa hadir karena harus mengikuti Konferensi NATO di Brussels, Belgia. Dia menjelaskan alasannya tak dapat hadir, serta mengirimkan dukungannya kepada tim Kroasia. “Saya yakin Kroasia akan menang,” kata dia.

Dan benar saja. Kroasia menang 2-1 dari Inggris, dan melaju ke final, prestasi tertinggi Kroasia di Piala Dunia. Kroasia hanya sampai ke fase grup di tahun 2014, 2006 dan 2002. Sedangkan pada 1998, Kroasia pernah berada di posisi ketiga, sebuah hasil yang luar biasa sebagai negara yang kala itu baru tujuh tahun merdeka.

Di final, Presiden Grabar-Kitarovic tak dapat membendung ekspresinya. Dia menyaksikan pertandingan final dari balkon VIP bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dalam final Kroasia harus mengaku kalah 2-4 dari Prancis.

Menanggapi kekalahan timnya dari Prancis, ia tetap bangga. Dia menyebut timnya sebagai tim terhebat “kedua di dunia”. “Kalian sudah berjuang seperti singa dan mencatat sejarah!” katanya melalui Facebooknya.

Dari dalam pesawat pulang ke Kroasia, sang presiden mengunggah video yang berisi ucapan terima kasih kepada tuan rumah Rusia (yang dikalahkan Kroasia di babak perempat final melalui penalti) atas keramahan mereka.

Meskipun tidak juara, Kroasia pulang dengan kepala tegak, mereka telah berjuang sekuat tenaga, dan menyajikan tontonan yang akan dikenang lama oleh orang-orang di seluruh dunia.(BBC)

Comments