Ke Rusia, Neymar Bawa Warisan Leluhur

BAGI orang Brasil, sepak bola adalah hidup itu sendiri. Sebuah tarikan nafas yang kemudian menyebarkan oksigen ke seluruh tubuh.

Lalu karenanya, ajang akbar sepak bola sejagat raya bernama Piala Dunia bisa berarti pestanya semua orang Brasil. Hari-hari penuh adrenalin ketika 11 warga pilihan mereka menari-nari di lapangan hijau, memutar pinggul, memperdaya lawan lalu mencetak gol. Indah sekali.

Ahaiy, Jogo bonito!

Permainan indah bagai tarian ini hanya milik Brasil. Bertahun-tahun orang terus saja terkesiap ketika pemain semacam Pele, Ronaldo, Ronaldinho dan sekarang Neymar lincah menggoyangkan tubuh mereka untuk menggocek lawan.

Jogo Bonito memang darahnya Brasil. Lahir dari sejarah nan papa saat negeri itu masih kental perbudakan yang dilakukan kaum imigran Eropa.

Orang-orang Eropa yang jatuh cinta pada semerbaknya kopi Brasil ini memang berdatangan. Asimilasi tak terhindarkan.

Lalu, Charles Miller, anak muda dengan ayah berdarah Inggris dan beribu asli Brasil, tak bisa hidup tanpa sepak bola. Lulus dari sebuah sekolah di Southampton, Inggris, ia kembali ke Brasil dengan membawa dua bola. Ia ingin tetap memainkan olah raga yang membuatnya gembira itu.

Maka, meski dari kejauhan, orang-orang Brasil pun melihat pemainan sepak bola. Lalu diam-diam mereka memainkannya.

Sejatinya, perbudakan di Brasil telah dihapus pada 1988. Namun bau diskriminasi masih terasa di sana-sini. Masih saja ada orang berkulit putih yang enggan beradu fisik ketika harus bermain sepak bola dengan kaum kulit berwarna. Berani bersenggolan, pukulan menjadi akibat.

Mencegah bersenggolan karena lawan yang enggan tersentuhan, mereka mencari cara. Tak ada pilihan kecuali bergerak selincah mungkin, meliukkan badan, memutar pinggul, juga pergerakan kaki nan cepat.

Tentu ini tak sulit buat mereka. Mereka begitu akrab dengan tarian Samba sebagaimana ornag Afrika biasa menarikannya.

Hanya saja, kali ini menari dengan bola. Ah, makin giranglah mereka bermain sepak bola.

Bagaimana tak bahagia bila bisa menari sambil bermain bola, tak perlu menyenggol lawan yang juga berarti bebas dari pukulan dan bahkan bisa menyarangkan bola ke gawang mereka. Ini definisi kegembiraan itu sendiri.

Saat itu, tak ada yang mengira beratus tahun kemudian cara itu menjadi ciri mereka. Menari indah sambil menggiring bola.

Warisan leluhur ini telah melambungkan Brasil sebagai negara yang mampu meraih trofi Piala Dunia sampai lima kali. Bahkan dua di antaranya dilakukan beruntun dalam dua edisi.

Brasil pertama meraih gelar juara dunia pada 1958 di Swedia. Di final, Tim samba ini mengalahkan tuan rumah dengan skor 5-2.
Empat tahun kemudian di Peru, Brasil juga membawa pulang piala cuatan Jules Rimet ini. Kali ini, di partai puncak Brasil menang atas Cekoslowakia dengan 3-1.

Negara sepak bola ini membuktikan, hal muram di masa lalu bisa disulap menjadi kedigdayaan. Kesempatan untuk mengukuhkan yang terbaik sejagat itu datang lagi tahun ini di Rusia. Kali ini, Neymar Cs yang mengajak menari! (yp)

Comments