Zlatko Dalic pelatih Kroasia (reuters)

Pelatih Kroasia Ini Ternyata Hanya Seorang Suporter

RUSIA – Sukses ‘Vatreni’ Kroasia menembus partai final Piala Dunia 2018, tidak terlepas dari peran besar sang peramu strategi, Zlatko Dalic di bangku pelatih. Namun siapa yang sangka jika pria berusia 51 itu awalnya hanya seorang penggembira sebelum akhirnya mampu mengukir sejarah bagi sepakbola Kroasia.

Ya, saat Kroasia melakoni debut mereka di Piala Dunia pada edisi 1998 silam, Dalic merupakan satu dari sejumlah warga negeri pecahan Yugoslavia itu yang mengaku bangga bisa melihat Vatreni berlaga di ajang bola sejagat.

Ia bahkan turut memberikan dukungan langsung ke stadion pada tiga laga pembuka yang dilakoni Davor Suker dan kolega. “Pada 1998 lalu, saya adalah salah satu dari sekian banyak pemuda yang merasa bangga kami bisa berlaga di Piala Dunia, meskipun saya tidak pergi untuk mewakili negara saya,” kenang mantan gelandang klub Kroasia, Hajduk Split tersebut seperti dikutip laman resmi FIFA.

Rasa bangga itu kemudian diwujudkan Dalic dengan membeli tiket untuk terbang ke Prancis dan menyaksikan tiga partai Kroasia di fase grup. “Saya berada di Perancis sebagai seorang suporter. Saya melihat bagaimana kami (Kroasia) bisa memgalahkan Jepang (1-0) dan Jamaika (3-1). Itu hal yang luar biasa bagi tim debutan dan negara yang baru merdeka seperti kami, meskipun kami akhirnya kalah melawan Argentina (0-1) di laga terakhir. Untungnya Jepang kalah dari Jamaika dan secara mengejutkan kami lolos ke fase gugur,” lanjut Dalic melihat perjuangan Kroasia pada fase grup Piala Dunia 1998 silam.

KEJUTAN BERLANJUT

Kejutan Kroasia kemudian berlanjut di fase gugur dengan mendepak Rumania 1-0 serta menyingkirkan Jerman 3-0. Sayang, kejutan Vatreni berakhir di fase semifinal usai menyerah 1-2 dari tuan rumah Prancis. Padahal, Kroasia sempat unggul lebih dulu lewat gol Suker, sebelum sepasang gol Lilian Thuram mengubur impian mereka di Piala Dunia.

“Semua orang di Kroasia sangat mengingat laga semifinal itu. Kekalahan itu menjadi topik pembahasan di negara kami selama 20 tahun. Saya sendiri sempat bergembira ketika Suker mencetak gol. Namun, saya kembali duduk ketika Perancis memenangi laga itu,” jelasnya. (junius/bu)

Comments